Arisan Brondong merupakan bukti bahwa film yang dibumbui seks laris manis ditonton oleh penonton bioskop di Indonesia dengan low budget. Budget menjadi hal yang penting dalam pembuatan film layar lebar, yang merupakan kendala utama dalam industri film Indonesia, ini diungkapkan oleh Helfi Kardit, sutradara yang telah sukses membuat sepuluh film diantaranya Rasul, Lantai 13, dan Arisan Brondong baru-baru ini.

Kualitas diakui oleh sutradara ini tergantung dari dana yang diterima. Seringkali dana yang diterima tidak semaksimal yang diinginkan. Inilah mengapa para sutradara hanya dapat membuat film yang kualitasnya apa adanya, mulai dari pemilihan pemain, lokasi syuting, editing, sampai dengan proses finishing berupa pengkopian film dalam bentuk jadi.

Untuk film yang paling standar dan murah, biasanya produser mencairkan dana 4-6 M.

”Jika film tidak laku, maka raiblah uang sejumlah itu,’

Karena alasan inilah, biasanya para produser tidak ingin berjudi menerima cerita yang belum jelas bakal laris atau tidak. Biasanya produser lebih senang membuat film drama komedi, komedi sex, atau horor berbumbu seks, yang telah terbukti mampu membujuk penonton datang ke gedung bioskop.

Jika seorang sutradara nekat mengambil resiko untuk menjadi produser dengan membiayai filmnya sendiri, terbukti seperti yang dilakukan Arya Kusumadewa lewat film-film independennya seperti Identitas tidak mendapatkan tanggapan penonton yang baik. Penonton sedikit, walau berhasil meraih Piala Citra.

Film laris rupanya lebih dominan oleh adanya rumus sederhana berupa jalan pintas dengan menjual film berbiaya murah dengan bumbu sex di sana sini, dengan harapan mampu mendatangkan penonton sebanyak mungkin.

”Karena betapapun, dunia film adalah bisnis,”

Berita terkait:

February 27th, 2010 | Tags: arisan brondong, Film

Komentar untuk Arisan Brondong Bukti Film Berbumbu Seks Laris

No comments yet.