Update 14:13 date 18/07/2018
DUNIA | 09 Jul, 2018 | 00:40

Begini cara tim sepak bola Thailand bertahan hidup di dalam gua selama dua pekan

tim sepak bola remaja thailand hilang dalam gua. ©Facebook Merdeka.com – Pagi hari 23 Juni lalu kepala pelatih tim sepak bola Thailand tengah mempersiapkan asistennya untuk sebuah tugas penting: menjaga anak-anak didiknya dalam suatu perjalanan. Nopparat Khanthavong, pelatih 37 tahun dari tim sepak bola Moo Pa (Babi Hutan) pagi itu bertemu dengan asistennya Ekapol Chanthawong, […]

tim sepak bola remaja thailand hilang dalam gua. ©Facebook

Merdeka.com – Pagi hari 23 Juni lalu kepala pelatih tim sepak bola Thailand tengah mempersiapkan asistennya untuk sebuah tugas penting: menjaga anak-anak didiknya dalam suatu perjalanan.

Nopparat Khanthavong, pelatih 37 tahun dari tim sepak bola Moo Pa (Babi Hutan) pagi itu bertemu dengan asistennya Ekapol Chanthawong, 25 tahun, yang akan membawa anak didiknya ke kawasan pegunungan Doi Nang Non, daerah dikenal dengan banyak gua dan air terjun di perbatasan Thailand-Myanmar.

“Pastikan kau bersepeda di belakang mereka supaya kau bisa mengawasi,” tulis dia kepada Ekapol di laman Facebook seperti dikutip harian the Washington Post.

Ekapol selama ini melatih anak-anak yang lebih muda jadi Nopparat mengatakan sebaiknya dia membawa sebagian anak dari tim yang lebih tua untuk membantu menjaga bocah-bocah itu.

“Hati-hati,” kata dia.

Beberapa jam kemudian apa yang terjadi menjadi serangkaian drama pencarian dan upaya penyelamatan yang menjadi sorotan dunia. Tim penyelamat menemukan mereka sembilan hari kemudian di dalam terowongan di sebuah gua dengan celah sempit dan dikelilingi lumpur serta genangan banjir air hujan.

Perhatian pun tertuju ke satu-satunya orang dewasa, yakni Ekapol, bekas biksu berusia 25 tahun yang berperan menjaga bocah-bocah itu untuk bertahan hidup di tengah situasi sulit.

Operasi penyelamatan hingga kini melibatkan ribuan penyelam, teknisi, personel militer, dan sukarelawan dari berbagai penjuru dunia.

Upaya penyelamatan dengan cara menyelam dinilai paling memungkinkan meski risikonya cukup besar karena anak-anak itu tidak bisa berenang dan menyelam, terlebih lagi kondisi air pekat berlumpur dan harus melalui celah sempit. Bahkan seorang penyelam ahli dari bekas Angkatan Laut Thailand tewas kehabisan oksigen ketika ingin menyelamatkan bocah-bocah itu.

Para teknisi berusaha mencari jalan untuk menggali permukaan gunung untuk mengebor gua dan mencapai lokasi tim sepak bola itu namun usaha itu bisa memakan waktu berbulan-bulan dan merusak geografi gua serta berisiko meruntuhkan dinding atau atap gua hingga membahayakan bocah-bocah itu.

operasi penyelamatan bocah terjebak di gua thailand Straits Times

Di saat tim penyelamat berusaha mencari cara terbaik, sebagian orang mencela Ekapol karena mengajak tim sepak bola itu masuk ke dalam gua. Di gerbang masuk gua sudah ada papan peringatan supaya orang tidak masuk terlalu dalam di saat musim hujan seperti ini. Dia seharusnya tahu itu.

Tapi bagi warga Thailand yang lain, Ekapol, yang meningggalkan kehidupan biksunya tiga tahun lalu untuk menjadi asisten pelatih tim sepak bola Moo Pa, dipandang sebagai utusan ilahi yang dikirim untuk melindung bocah-bocah itu di masa sulit ini. Sebuah gambar kartun yang beredar luas di Thailand memperlihatkan Ekapol sedang duduk bersila seperti layaknya seorang biksu sedang bertapa dan di dekapannya ada 12 bocah bersamanya.

Menurut keterangan tim penyelamat, dia salah satu yang terlemah di antara anak-anak itu karena dia memberikan perbekalan dan air miliknya kepada mereka di awal-awal mereka terjebak di dalam gua. Dia juga mengajari anak-anak itu bagaimana bersemadi dan menghemat tenaga sebanyak mungkin sampai mereka akhirnya ditemukan.

“Kalau dia tidak bersama mereka, apa jadinya anak saya?” kata ibu dari bocah bernama Pornchai Khamluang dalam wawancara dengan stasiun televisi Thailand. “Saat dia keluar nanti, kami akan memulihkan hatinya. Ek yang tersayang, saya tidak menyalahkanmu.”

Ekapol adalah anak yatim yang kehilangan orangtuanya ketika dia berusia 10 tahun. Dia kemudian belajar menjadi biksu tapi kemudian meninggalkan biara untuk merawat neneknya yang sakit di Mae Sai sebelah utara Thailand.

Pada masa itulah dia membagi waktunya dengan bekerja di biara dan melatih tim sepak bola yang kemudian bernama Moo Pa. Ekapol merasa dia menemukan perasaan yang sama dengan anak-anak itu. Mereka kebanyakan dari keluarga miskin, tidak punya kewarganegaraan, dari etnis minoritas, hal yang banyak dijumpai di perbatasan antara Myanmar dan Thailand.

“Dia mencintai mereka melebihi dirinya sendiri,” ujar Joy Khampai, teman lama Ekapol yang bekerja di warung kopi di kawasan biara di Mae Sai. “Dia tidak suka mabuk, dia tidak merokok. Dia termasuk orang yang menjaga dirinya baik-baik dan mengajarkan hal yang sama kepada anak-anak itu.”

Sabtu pagi Angkatan Laut Thailand merilis foto surat yang ditulis anak-anak itu untuk keluarga mereka dan dunia luar. Ekapol menulis di sebuah kertas berwarna kuning yang disobek dari sebuah buku catatan.

“Saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk menjaga anak-anak,” tulis dia. “Saya ingin berterima kasih atas semua dukungan dan saya memohon maaf.” [pan]

https://www.merdeka.com/dunia/begini-cara-tim-sepak-bola-thailand-bertahan-hidup-di-dalam-gua-selama-dua-pekan.html
® Selamat datang ke Saluran. Berita Terkini/ Maklumat yang dikemukakan di sini diambil dari sumber yang boleh dipertanggungjawabkan
KOMEN ANDA