Update 21:25 date 15/10/2018
BERITA | 06 Oct, 2018 | 05:16

BMKG: Sejak 2008 RI Tak Gunakan Buoy untuk Peringatan Dini Tsunami

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (Ristu Hanafi/detikcom) Jakarta – BMKG menyatakan Indonesia tidak lagi menggunakan buoy sebagai alat deteksi dini tsunami. BMKG mengatakan Indonesia menggunakan basis pemodelan komputer saat mendeteksi gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. “Jadi peringatan dini di Indonesia tentang tsunami dibangun tahun 2008. Sejak dibangun, itu sudah 10 tahun, itu tidak pernah menggunakan […]

BMKG: Sejak 2008 RI Tak Gunakan Buoy untuk Peringatan Dini TsunamiKepala BMKG Dwikorita Karnawati (Ristu Hanafi/detikcom)

Jakarta – BMKG menyatakan Indonesia tidak lagi menggunakan buoy sebagai alat deteksi dini tsunami. BMKG mengatakan Indonesia menggunakan basis pemodelan komputer saat mendeteksi gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

“Jadi peringatan dini di Indonesia tentang tsunami dibangun tahun 2008. Sejak dibangun, itu sudah 10 tahun, itu tidak pernah menggunakan buoy. Jadi untuk peringatan dini itu ada beberapa metode, cara. Negara lain memang ada yang pakai buoy. Tapi saat itu, pimpinan atau pemerintah 2008, khususnya untuk BMKG, diputuskan menggunakan sistem peringatan dini berbasis pemodelan komputer dengan perhitungan matematika,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam diskusi Palu Retak, Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (6/10/2018).

Ia mengatakan sistem pemodelan komputer ini merekam data gelombang gempa dari ratusan sensor gempa yang dipasang di seluruh wilayah Indonesia. Sensor itu mengirimkan data berupa pusat gempa dan berapa besar guncangan ke BMKG.

“Sensor ini mengirim data ke BMKG, kemudian dalam 2 menit data gelombang gempa segera dihitung oleh komputer untuk menetapkan, mengetahui di mana pusat gempa, pada kedalaman berapa, magnitudo berapa, dan terjadi kira-kira pukul berapa. Data perlu diketahui, kalau tahu pusat gempa di mana, komputer bisa terus bekerja, memodelkan apa gempa itu memicu tsunami apa tidak,” ujar Dwikorita.

Dwikorita mengatakan saat kejadian gempa Sulteng, awalnya sistem tersebut mendeteksi pusat gempa berada di Donggala dan mendeteksi akan ada tsunami. Namun data tersebut tidak langsung dikirimkan ke masyarakat, tetapi diverifikasi oleh pakar terlebih dulu paling lama 5 menit setelah gempa.

“Diverifikasi oleh operator dan pakar, meski nggak ada gempa kita itu berjaga terus sehingga sekitar 4 menit menjelang 18.07 Wita bisa kita umumkan peringatan dini berbasis perhitungan komputer yang diverifikasi oleh expert,” ujar Dwikorita.

Setelah data diverifikasi para pakar, BMKG langsung menginformasikan kepada masyarakat tentang potensi tsunami itu. BMKG menegaskan Indonesia tak menggunakan buoy lagi untuk mendeteksi tsunami. Meski begitu, lembaga itu masih dapat mendeteksi secara dini tsunami.

“Jadi kami sejak awal nggak pakai buoy. Ini ada kesalahpahaman seakan-akan nggak ada buoy, jadi nggak bisa peringatan dini,” ungkapnya.

Sebelumnya, alat deteksi tsunami Indonesia atau tsunami buoy tak beroperasi sejak 2012. Meski alat itu tak beroperasi, BNPB menyatakan Indonesia masih bisa melakukan deteksi dini tsunami.

“Hilangnya buoy tsunami itu hanya satu bagian dari Indonesia tsunami early warning system,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di kantor Kemenkominfo, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (2/10).

Buoy merupakan sistem peringatan dini tsunami (sistem pelampung) yang dipasang di tengah laut. Buoy merupakan salah satu opsi teknologi pendeteksi dini tercepat mengenai potensi tsunami.
(yld/bag)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

https://news.detik.com/berita/d-4245020/bmkg-sejak-2008-ri-tak-gunakan-buoy-untuk-peringatan-dini-tsunami
® Selamat datang ke Saluran. Berita Terkini/ Maklumat yang dikemukakan di sini diambil dari sumber yang boleh dipertanggungjawabkan
Tag Berkaitan:
KOMEN ANDA