Update 19:57 date 17/08/2018
POLITIK | 11 Aug, 2018 | 08:04

Kenyataan Rumit tentang Dengkuran Kucing

Jakarta – Kucing-kucing kita barangkali akan mendengkur ketika kita membelai atau menggelitiki mereka, tetapi ternyata dengkuran merupakan bentuk komunikasi yang lebih rumit ketimbang yang kita duga. Kita pikir kita tahu apa artinya dengkuran kucing. Ada anggapan dengkuran kucing itu menunjukkan dia tengah merasakan kenikmatan: suara serak nan manja setiap kali mereka digelitik atau dibelai, suara […]

Kenyataan Rumit tentang Dengkuran Kucing

Jakarta

Kucing-kucing kita barangkali akan mendengkur ketika kita membelai atau menggelitiki mereka, tetapi ternyata dengkuran merupakan bentuk komunikasi yang lebih rumit ketimbang yang kita duga.

Kita pikir kita tahu apa artinya dengkuran kucing.

Ada anggapan dengkuran kucing itu menunjukkan dia tengah merasakan kenikmatan: suara serak nan manja setiap kali mereka digelitik atau dibelai, suara yang nyaris tak pudar ketika melipat badannya di pangkuan sang pemilik.

Tetapi itu bukanlah cerita lengkapnya. Ada banyak yang bisa diceritakan dari dengkuran kucing ketimbang yang mungkin Anda duga.

Bahkan, ‘bagaimana’ dengkuran itu bisa terjadi sudah menjadi perdebatan sejak lama. Beberapa orang berpikir dengkuran itu terkait aliran darah ke vena cava inferior, pembuluh yang membawa darah yang sudah terdeoksigenasi ke sisi kanan jantung.

Tetapi dengan lebih banyak penelitian, tampaknya lebih mungkin suara-suara itu berasal dari otot-otot di dalam pangkal tenggorokan kucing.

Ketika mereka bergerak, mereka melebarkan dan menyempitkan glotis, bagian dari pangkal tenggorokan yang dikelilingi pita suara – dan udara bergetar setiap kali kucing bernafas keluar masuk. Hasilnya? Sebuah dengkuran.

Kendati ilmu pengetahuan saat ini sangat yakin pada proses itu, tidak ada jawaban yang pasti seperti apa yang memicu reaksi tersebut. Petunjuk terbesar adalah osilator saraf dalam di otak kucing, yang justru tidak memiliki tujuan jelas.

Tetapi jika osilator saraf itu terpancing, apakah itu hanya ketika kucing merasa senang?

Kadang-kadang. Tetapi hanya kadang-kadang.

  • Kota yang terobsesi dengan kucing
  • Bisa Anda tebak mana kucing liar dan mana kucing piaraan?
  • Kucing paham perasaan Anda

Marjan Debevere adalah seorang fotografer di tempat penampungan kucing di London, yang saat ini sedang belajar untuk mendapatkan gelar dalam psikologi kucing.

Dia juga pemilik empat ekor kucing, Clive, Hula, Luigi dan Archie, yang penampilannya di Instagram terus dibanjiri penggemarnya. (Saat ini pengikutnya mencapai 33.000 dan terus bertambah).

Bagian dari misteri di sekitar dengkuran adalah bahwa kita sering hanya memperhatikan dengkuran kucing terjadi “saat kita menggelitiki mereka di tempat-tempat yang mereka sukai,” kata Debevere.

Padahal mereka juga mendengkur ketika kita sedang tidak ada, dan lamanya dengkuran bervariasi antar kucing.

“Semua kucing berbeda, beberapa tidak pernah mendengkur, dan beberapa akan mendengkur tanpa henti,” katanya.

Dia menggambarkan perbandingan antara Luigi, kucing liar jinak yang mengikuti seseorang masuk ke kantor mereka dan kemudian dibawa ke tempat penampungan, dan Archie, yang “pindah dari tetangga sebelah” dan menjadi bagian dari keluarga. Dengkuran Luigi sedikit, sementara Archie banyak.

“Sejauh ini saya telah memotret lebih dari 3.000 ekor kucing, di shelter, dan tidak ada dua ekor yang sama,” kata Debevere.

“Saya menyaksikan ada banyak dengkuran kucing ketika mereka sekarat, dan ketika mereka akan ‘ditidurkan’. Para dokter hewan akan mengatakan sesuatu seperti “mereka akan mendengkur sampai akhir”, dan orang-orang beranggapan kucing-kucing itu merasa bahagia ketika mendengkur. Padahal tidak selalu begitu.”

Penelitian tentang perilaku dan komunikasi kucing tertinggal jauh daripada penelitian tentang anjing, yang biasanya lebih banyak yang ingin berpartisipasi, terutama jika melibatkan hadiah makanan.

Tetapi dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak sorotan yang dicurahkan untuk dengkuran kucing.

“Kita baru mulai memahaminya, dan masih banyak pertanyaan yang tidak terjawab daripada yang dijawab,” kata Gary Weitzman, seorang dokter hewan dan CEO di San Diego Humane Society.

“Selain biasanya mewakili rasa senang kucing, dengkuran juga dapat menunjukkan rasa gugup, ketakutan dan stres. Untungnya, lebih sering sebagai indikator rasa senang.”

“Hal tersebut sudah menjadi spekulasi sejak beberapa dekade, bahwa dengkuran merupakan bentuk komunikasi. Pada awal tahun 2000-an, kami berhipotesis bahwa dengkuran memiliki tujuan lain.

“Penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth von Muggenthaler, Karen Overall dan lainnya telah mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang tujuan mendengkur. Tampaknya dengkuran memiliki sifat komunikasi, meredakan dan penyembuhan,” kata Weitzman.

Kucing-kucing mulai mendengkur ketika berusia beberapa hari, yang membantu induk kucing untuk menemukan mereka saat makan tiba.

Mungkin sama dengan beberapa kucing dewasa yang mendengkur ketika mereka diberi makan, atau yang mendengkur terlebih dulu ketika mereka mencoba dan meyakinkan manusia bahwa ini sudah waktunya makan.

Beberapa akan mendengkur keras ketika mereka dengan hati-hati memeriksa lingkungan baru (kucing saya mendengkur keras ketika memeriksa belakang lemari). Kucing-kucing mungkin juga mendengkur karena terkejut, atau setelah episode yang menegangkan setelah dikejar anjing.

Dengan banyaknya ilmu pengetahuan yang menggali masalah dengkuran ini, semakin banyak juga temuan yang terungkap.

“Para peneliti telah mencatat ‘dengkuran biasa’ dan dengkuran meminta makan dari pemilik mereka,” kata Celia Haddon, seorang penulis dan pakar perilaku kucing.

“Bahkan mereka yang bukan pemilik kucing dapat mengatakan perbedaannya. Di dalam dengkuran rendah yang biasa ada tangisan dengan frekuensi tinggi, agak seperti suara meong.”

“Suara khusus ini agak sedikit seperti tangisan tertahan anak-anak kucing atau tangisan bayi manusia. Kita manusia, secara alami peka terhadap tangisan bayi, jadi kita juga menanggapi tangisan dalam dengkuran.”

Sam Watson, ilmuwan di badan amal hewan di Inggris, RSPCA, mengatakan bahwa masih ada sedikit pemahaman bagaimana kucing saling mendengkur di alam liar, meskipun jelas mereka mendengkur ketika sedang saling memandikan satu sama lain.

“Mungkin ada satu untuk ‘Saya mau yang itu’, lainnya untuk ‘Ayo berbagi sumber.’ Ada banyak hal seperti itu yang baru sedikit kita ketahui.

“Komunikasi kucing benar-benar diabaikan, dan sekarang butuh lebih banyak perhatian dan penelitian, daripada sebelumnya.”

“Hal tersebut dianggap merupakan getaran dari aktivitas fisik yang meremajakan, suatu cara bagi kucing untuk ‘menyembuhkan’ diri sendiri setelah stres”.

Salah satu hipotesis adalah bahwa dengkuran merupakan cara penyembuhan yang kuat. Diperkirakan bahwa getaran dari aktivitas yang meremajakan fisik, satu cara bagi kucing untuk ‘menyembuhkan’ diri sendiri setelah stres.

Frekuensi dari getaran-getaran tersebut, yang berkisar dari 20Hz sampai 150Hz dipercaya dapat mendorong pertumbuhan tulang, karena pengerasan tulang adalah akibat dari tekanan. Frekuensi-frekuensi lainnya mungkin dapat melakukan hal yang sama pada jaringan.

“Dengkuran di frekuensi 25 – 100Hz sesuai dengan frekuensi penyembuhan yang ditetapkan dalam pengobatan terapeutik untuk manusia,” kata Weitzman. “Tulang merespon 25-50 Hz, dan kulit serta jaringan lunak sekitar 100Hz, menurut para peneliti.”

Inilah sebabnya kenapa kita menemukan kucing mendengkur kepuasan saat tidur. Kenyataannya ini merupakan bentuk perbaikan diri.

Kucing mungkin telah menyesuaikan perilaku normal mereka, dengan menghabiskan banyak waktu untuk beristirahat, sebagai cara untuk menghindari cedera karena terlalu banyak tenaga yang dikeluarkan.

Dengkuran telah berkembang sebagai suatu cara berenergi rendah untuk menjaga tulang dan jaringan dalam kondisi baik ketika mereka beristirahat.

Dan dengkuran mungkin tidak hanya bermanfaat bagi kucing-kucing sendiri. Mengelus kucing sudah lama dianggap sebagai bentuk meredakan stres – pemilik kucing dapat menurunkan risiko stroke atau penyakit jantung sampai sepertiganya.

Begitu juga dengan dengkuran kucing yang frekuensinya dapat memberikan dampak yang bagus bagi kita.

“Saya pikir dengkuran memiliki manfaat bagi manusia,” kata Weitzman.

“Salah satunya adalah manfaat psikologis, kita selalu menanggapi efek psikologis dengkuran. Dengkuran menenangkan dan menyenangkan kita, seperti melihat ombak di lautan.

“Kita merespon dengkuran kucing sebagai stimulus yang menenangkan dan bisa jadi ada kucing yang dipilih secara genetis dengan lebih banyak kecenderungan untuk mendengkur.”

Haddon setuju. “Jika mereka mengelilingi kaki Anda, melihat, melirik ke mangkuk makanan atau lemari es, Anda tidak bisa salah mengartikan tanda-tanda itu, bersama dengan dengkuran keras yang mengatakan bahwa mereka ingin makanan mereka, sekarang!

“Di pagi hari, dengkuran yang keras dapat digunakan, bersamaan dengan menepuk atau menggosok wajah manusia untuk membangunkan mereka, dan mendapatkan sarapan.

Kebanyakan dari kita memberi makan kucing sebelum kita sendiri makan, yang memperlihatkan betapa efektifnya cara komunikasi mereka.”

Pada akhirnya, pencarian untuk mendefinisikan arti dari sebuah dengkuran mungkin menguntungkan dari mengetahui bahasa tubuh kucing dengan lebih baik, dari ekor tegak seekor kucing jinak dengan suasana hati yang ramah sampai ke mata yang lebar dan kumis kucing yang surut ke belakang ketika kucing dalam posisi bertarung.

Dengan pengetahuan inilah, ikatan antara kucing dan pemiliknya bisa tumbuh.

Anda juga bisa menyimak berita ini dalam bahasa Inggris berjudul The complicated truth about a cat’s purr atau tulisan lain dalam BBC.

BBC News Indonesia


(ita/ita)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

https://news.detik.com/bbc-world/d-4161420/kenyataan-rumit-tentang-dengkuran-kucing
® Selamat datang ke Saluran. Berita Terkini/ Maklumat yang dikemukakan di sini diambil dari sumber yang boleh dipertanggungjawabkan
KOMEN ANDA